Page 10 - Gema Petra Edisi 122

Basic HTML Version

A
jang
International Junior Science
Olympiad
(IJSO) merupakan
olimpiade pelajar tingkat SMP
dalam bidang sains yang diselenggarakan
secara rutin tiap tahun. Pada IJSO 2016,
saya mendapatkan kesempatan untuk
mewakili Indonesia. Kebetulan Indonesia
menjadi tuan rumahnya, dan
event
yang bertema “
Science for Creative
Innovation
” ini diselenggarakan di Bali
pada tanggal 2–11 Desember 2016.
Ajang yang memasuki tahun ke-13 ini
melibatkan perwakilan dari 48 negara,
terdiri atas 123
leaders
, 276
students
,
8
visitors
, 25
observers
, dan 5
executive
committee members
.
Sebelum menjalani perlombaan,
ketiga puluh
medalist
OSN diseleksi
menjadi lima belas orang di Bandung,
untuk mengikuti pembinaan oleh dosen-
dosen dari Institut Teknologi Bandung
dan Universitas Indonesia. Materi
pembinaan meliputi bidang Fisika,
Biologi, dan Kimia. Pada akhir TC II, ada
tes akhir untuk simulasi IJSO, sekaligus
menyeleksi jumlah peserta menjadi dua
belas orang. Ada kejadian yang membuat
saya sempat cemas. Saat mengerjakan,
soal Biologi bagian B terselip dan
tidak saya kerjakan, akibatnya nilai
maksimal Biologi saya hanya 50%. Pada
pengumuman dan pembukaan TC III
di Hotel Bumi Wiyata Depok, ternyata
nama saya masih ada dalam daftar
kedua belas siswa yang berhak mewakili
Indonesia dalam IJSO 2016. Pada TC
III, tidak lagi membahas materi, tetapi
berupa latihan soal, simulasi IJSO, dan
pembinaan eksperimen.
Pada tanggal 2 Desember 2016,
kami berangkat ke Bali. Sampai di sana,
kami diharuskan mengumpulkan ponsel
ataupun
gadget
ke
leader,
lalu menuju
ke Hotel Aston Denpasar, tempat lomba
sekaligus penginapan untuk sembilan
hari ke depan. Esoknya, ada acara
pembukaan yang meriah, namun waktu
itu saya masih terlalu pusing memikirkan
ujian MCQ yang berlangsung pada
tanggal 4 Desember 2016. Dalam IJSO,
setiap selesai tes, kami diajak berkeliling
Bali. Ada satu insiden yang terjadi saat
di Pantai Pandawa, salah satu peserta
dari Hungaria tertusuk bulu babi dan
dilarikan ke UGD. Mengetahui hal itu,
saya langsung takut dan tidak berani
ke pantai, mengingat masih ada ujian
eksperimen besoknya.
Eksperimen di IJSO itu unik, karena
eksperimen dilakukan secara tim. Sejak
awal pembentukan tim, kami kurang
solid dan nilai tim kami tidak terlalu
bagus dibandingkan yang lain. Tetapi
setelah berkali-kali bereksperimen
bersama, kami menjadi lebih kompak.
Saat ujian eksperimen, aliran listrik tiba-
tiba putus sehingga eksperimen peserta
menjadi tersendat. Cukup mengagetkan,
tetapi kami memilih untuk menjawab
pertanyaan pada sela matinya listrik.
Saat ujian eksperimen selesai,
semua peserta bertepuk tangan, tinggal
menunggu hasil. Hasil diumumkan
pada tanggal 10 Desember 2016,
satu per satu, nama peraih medali
dipanggil. Nama peserta dari Indonesia
tidak terdengar... hingga medali perak
dibacakan, tujuh orang teman kami
maju ke depan untuk menerima medali.
Saat itu, tim eksperimen kami belum
dipanggil. Saat pembacaan medali emas,
nama teman-teman saya disebutkan
satu per satu. Dan akhirnya... nama
saya pun juga disebutkan sebagai peraih
medali emas. Saya langsung berteriak
gembira, dan berlari ke atas panggung!
Saya sangat bersyukur kepada Tuhan,
karena kerja keras saya selama kurang
lebih tiga bulan telah terbayarkan
melalui raihan medali emas. Saya juga
berterima kasih kepada orang tua dan
guru yang telah mendukung selama
ini. Sungguh hal yang membanggakan
bisa mengharumkan nama Indonesia
dalam ajang olimpiade sains tingkat
internasional. Semoga... ini bukan
terakhir kalinya saya mempersembahkan
prestasi yang membanggakan!
oleh: Winston Cahya
SMP Kristen Petra 3
10