Page 3 - Gema Petra edisi Februari 2020
P. 3

Aku Bisa Membuat


                        Popcorn Sendiri...!





             ari Rabu tanggal 22 Januari 2020, kami, siswa kelompok TK A dari TK Kristen
             Petra 1, belajar membuat popcorn. Sebelum membuat popcorn, kami
       Hmendengarkan penjelasan dari ibu guru terlebih dahulu. Saat membuat
        popcorn, kami harus ditemani oleh ibu guru atau mama. “Membuat popcorn
        sangat sederhana, tetapi harus berhati-hati, ya...!” kata ibu guru.
            Bahan-bahan untuk membuat popcorn adalah biji jagung dan mentega.
        Pertama-tama, kami mencuci tangan dahulu agar tangan kami bersih. Setelah itu,
        kami mengambil sesendok margarin untuk dimasukkan ke dalam panci. Ibu guru
        membantu kami untuk menyalakan kompor. Setelah margarin meleleh/mencair,
        kami memasukkan biji jagung ke dalam panci, dan menutupnya.
            Tak beberapa lama, tedengar suara pletak-pletak! Nah, itu tandanya biji jagung
        sedang mekar. Jika panci tidak bersuara lagi, maka tutupnya
        boleh dibuka, dan popcorn yummy siap dinikmati! Hehehe…
        sekian cerita dari kami ya, teman-teman! Bye, bye…!






            Senangnya Bermain Permainan Tradisional




                                                ermainan tradisional adalah permainan yang dimainkan oleh anak-anak pada
                                                zaman dahulu. Kebanyakan permainan ini dilakukan secara kelompok atau
                                           Porang banyak, contohnya: petak umpet, ular naga, cublak-cublak suweng,
                                            egrang, lompat tali, kelereng, engklek, ataupun congklak (dakon). Pada tanggal 7-8
                                            Januari 2020, bapak dan ibu guru mengajak kami (siswa TK A dari TK Kristen Petra 5)
                                            untuk memainkan beberapa jenis permainan tradisional tersebut.
                                               Congklak dikenal dengan berbagai nama oleh masyarakat Indonesia. Di
                                            Lampung, permainan ini dikenal dengan nama dentuman lamban, sedangkan di
                                            Sulawesi dikenal dengan nama mokaotan, maggaleceng, aggalacang, dan nogarata.
                                            Permainan ini dilakukan oleh dua orang, dengan menggunakan papan congklak
                                            yang memiliki 16 buah lubang (14 buah lubang kecil dan 2 buah lubang besar) untuk
                                            meletakkan biji-biji congklak. Setiap lubang kecil diisi dengan biji congklak sebanyak
                                            tujuh buah, dan dimainkan secara bergantian. Selain memberi pelajaran berhitung,
                                            permainan ini mendorong pemain berpikir kritis, karena harus punya strategi agar
                                            lubang besar terisi penuh dan menjadi pemenangnya.
                                               “Cublak-cublak suweng, suwenge ting gelenter, mambu ketundhung gudel,
                                            Pak Empo lera-lere, sapa ngguyu ndelikake, sir, sir pong dele kopong, sir, sir pong
                                            dele kopong….” Itulah sedikit lirik lagu dari permainan cublak-cublak suweng, salah
                                            satu permainan tradisional yang populer di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur.
                                            Sebelum bermain, kami melakukan hompimpah untuk menentukan siapa yang
                                            akan menjadi Pak Empo. Anak yang menjadi Pak Empo akan berbaring telungkup
                                            di tengah, sedangkan yang lain akan duduk mengelilingi Pak Empo dan meletakkan
                                            telapak tangan yang terbuka di atas punggung Pak Empo. Sambil bernyanyi, kami
                                            memindahkan sebuah batu dari tangan yang satu ke tangan yang lainnya sampai lagu
                                            selesai. Dan ketika lagu selesai, kami akan menutup tangan dan batu tersembunyi
                                            di salah satu tangan teman. Pak Empo akan berusaha menebak di mana batu itu
                                            tersembunyi. Jika tebakan benar, anak yang memegang batu akan berganti posisi
                                            menjadi Pak Empo. Permainan ini menyenangkan sekali! Kami belajar untuk bekerja
                                            sama, tidak boleh memberitahukan di mana batu tadi tersembunyi.
                                               Selain kedua permainan tadi, kami juga bermain engklek, ular naga, dan
                                            ular tangga. Teman-teman, ternyata permainan tradisional tidak kalah serunya
                                            dibandingkan permainan yang ada di gadget kita, lho! Selain dapat memainkannya
                                            bersama-sama, kita juga dapat belajar banyak hal dari permainan tradisional.
                                            Mari, teman-teman… kita lestarikan dan sama-sama belajar untuk mau mengenal
                                            bermacam-macam permainan tradisional yang kita miliki!
                                                                                                                 03
   1   2   3   4   5   6   7   8