Page 12 - Gema Petra Edisi 131

Basic HTML Version

P
ada tanggal 25-28 Juli 2017 yang lalu, Universitas
Kristen Petra kembali mengadakan kegiatan
workshop
tahunan yang bertempat di Singapura,
dan diikuti oleh kepala sekolah dan perwakilan guru
BK dari tiga puluh sekolah yang ada di Surabaya,
Mojokerto, Malang, Jember, Semarang, Yogyakarta,
Makassar, dan Manado.
Workshop
kali ini mengangkat
tema “
Agent of Change
”. PPPK Petra mendapat
kesempatan untuk mengikutsertakan seluruh Kepala
SMA/SMK Petra serta satu orang perwakilan guru BK
dari tiap-tiap sekolah.
Pada kesempatan ini, Prof. Ir. Rolly Intan, M.A.Sc.,
Dr.Eng. selaku Rektor Universitas Kristen Petra
memaparkan
value
yang ada di Universitas Kristen
Petra serta membuka forum diskusi bagi kepala
sekolah dan guru BK, mengenai minat dan jurusan
yang ada di Universitas Kristen Petra serta kendala
di lapangan yang banyak ditemui berkaitan dengan
Workshop:
Agent of Change
S
alah satu tantangan yang dihadapi oleh lembaga
pendidikan adalah meningkatkan daya saing dan
keunggulan kompetitif
(competitive advantage)
di semua sektor, dengan mengandalkan pada
kemampuan SDM, teknologi, dan manajemen, tanpa
mengurangi keunggulan komparatif yang telah dimiliki.
Lembaga pendidikan diharuskan mampu menghadapi
perubahan yang supercepat dalam tantangan
globalisasi, dengan melahirkan SDM yang berdaya
saing tinggi, berkarakter, dan tangguh. Hal yang paling
mendasar dan tidak dapat dihindari adalah dengan
melakukan perubahan positif yang direncanakan
secara holistis melalui
Organization Development
(OD)
. Perubahan yang hanya sesaat tidak akan dapat
ORGANIZATIONAL CHANGE AND DEVELOPMENT STRATEGICS
(From Great Leaders Toward Sustainable Superior Performance)
“Change or Die”
membawa sekolah memiliki
competitive advantage
yang diakui oleh para
stake holder
. Kepala sekolah
harus menjadi
change agent
agar organisasi dapat
mengalami “perubahan cepat” yang memang
direncanakan
(Organization Development as the
Planned Change Process)
.
Organization Development
dapat dilakukan melalui
strategi ‘
action research
’ yang dimodifikasi sesuai
dengan
value
and
design of organization
, yang terdiri
atas tiga tahap, yaitu:
1. Diagnosis: mengumpulkan dan menganalisis data
organisasi serta melakukan pengaturan objek yang
akan diubah (
unfreezing
).
2. Intervention
: mengambil tindakan
kolaboratif untuk menerapkan perubahan
yang diinginkan (
changing
). Salah satu
intervensi melalui pembiasaan/pemberian
“pola” (
intervention culture
) bertujuan
untuk merubah
mindset
seseorang, yang
akan berdampak pada perubahan besar
organisasi.
People don’t resist change. But
they resist being changed
.
3. Evaluation
: melakukan tindak lanjut
untuk memperkuat dan mendukung
perubahan (
refreezing
).
Seorang pemimpin harus memiliki
kompetensi
intrapersonal skills
,
interpersonal skills
,
general consultation
peminatan kuliah. Kegiatan kemudian dilanjutkan
dengan rangkaian sesi acara yang sudah disusun oleh
tim dari Universitas Kristen Petra, baik untuk kepala
sekolah maupun guru BK. Tiap sesi telah disusun dan
ditata dengan rapi, sehingga seluruh peserta dapat
terlibat aktif dalam diskusi ataupun latihan yang
diberikan oleh tim Universitas Kristen Petra.
Dalam setiap sesi untuk guru BK, Dra. Lanny Herawati
selaku pembicara, banyak mengulas secara mendalam
mengenai
digital generation
, pengaruh perkembangan
teknologi dan problematiknya bagi generasi muda
masa kini, serta tahapan yang dapat dilakukan untuk
menolong problematik generasi masa kini. Selain itu,
diulas pula mengenai pentingnya
value
dalam hidup
dan kehidupan organisasi serta peranan guru BK untuk
menolong siswa agar dapat mengembangkan nilai
hidup hingga mencapai tujuan yang optimal, yaitu
tujuan yang tidak hanya berkutat pada kebutuhan
Jessica Rahardja S., S.Psi., M.Si.
Staf BK kantor Sekretariat PPPK Petra
Elisabeth Dian P., S.Pd., M.M.
Kepala SMA Kristen Petra 4
skills,
dan
organization development theory,
serta
mempunyai prinsip:
• Nothing to hide
. Pemimpin harus tampil apa adanya,
tidak ada yang disembunyikan/selalu transparan,
sehingga berani mengatakan tentang kebenaran
(Matius 5:37). Dalam mengatakan suatu kebenaran,
seorang pemimpin perlu mempertimbangkan dua
hal, yaitu:
1. Tentang kebenaran itu sendiri.
2. Bagaimana cara untuk menyampaikan kebe-
naran, agar tujuan yang diharapkan tercapai,
tetapi tidak menimbulkan masalah baru.
• Nothing to lose
. Pemimpin harus menyadari bahwa
segala sesuatu yang dimiliki adalah titipan Tuhan,
termasuk jabatan yang sedang dipegangnya,
sehingga dia tidak akan memakai segala cara untuk
mempertahankan jabatannya. Dia percaya bahwa
tidak ada yang abadi yang menjadi miliknya.
• Nothing to prove
. Pemimpin tidak boleh merasa diri
hebat/sombong dan bersikap semena-mena kepada
orang yang dipimpinnya.
Leadership is the process of influence other people to
act in particular ways in order to achieve specific goals.
Tulisan di atas adalah sebagian materi dalam
workshop
Kepala SMA/SMK yang diselenggarakan oleh
Universitas Kristen Petra pada tanggal 25-28 Juli 2017
di Singapura.
dirinya semata, tetapi juga dapat memberikan dampak
bagi kehidupan orang lain. Dengan berbagai macam
pembekalan materi yang disampaikan, diharapkan
tim guru BK dapat membawa perubahan yang
mengembangkan nilai-nilai kehidupan bagi diri sendiri,
siswa, dan lingkungan organisasi.
12