Page 15 - Gema Petra Edisi 131

Basic HTML Version

S
ekolah merupakan lembaga
pendidikan yang menampung
peserta didik untuk dibina
agar mereka memiliki kemampuan,
kecerdasan, dan keterampilan. Untuk
menciptakan keunggulan sekolah,
diperlukan pembinaan secara
terkoordinasi dan terarah. Salah satu
wadah pembinaan peserta didik di
SMA Kristen Petra 3 adalah program
kegiatan
Business Entrepreneurship
.
SMA Kristen Petra 3 perlu menciptakan
iklim sekolah yang berbeda dengan
SMA-SMA lainnya, karena
skill
peserta
didik lebih menonjol daripada akademik.
Pada tahun ajaran 2017/2018, tercatat
46,4% orang tua peserta didik bekerja
sebagai wiraswasta, dan 70% orang
tua peserta didik mendukung anaknya
menekuni
Business Enterpreneurship
.
Hal ini merupakan kekuatan yang luar
biasa apabila sekolah mampu mengelola
potensi tersebut dengan sebaik-baiknya.
Tujuan dilaksanakannya
Business
Entrepreneurship
, antara lain:
• Menambah pengetahuan para peserta
didik tentang
entrepreneurship
serta
manfaatnya untuk masa depan.
• Melatih kemampuan
entrepreneurship
para peserta didik melalui kegiatan
koperasi sekolah dan
Excellent Point
Enterpreneurship
.
• Mengasah dan mengembangkan
keterampilan usaha yang sudah
dimiliki oleh para peserta didik
sebagai generasi penerus usaha orang
tua.
• Meningkatkan keunggulan komparatif
bagi sekolah yang dapat meningkatkan
citra positif sekolah.
• Menghasilkan jiwa
entrepreneur
sejati
di kalangan peserta didik, yang dapat
menghasilkan pendapatan tambahan
bagi peserta didik ataupun sekolah.
Kegiatan-kegiatan yang mendukung
pelaksanaan
Business Entrepreneurship
di SMA Kristen Petra 3, adalah:
1. Koperasi siswa
Koperasi siswa di SMA Kristen Petra
3 merupakan salah satu progam
entrepreneur
sekolah yang dijalankan
oleh siswa-siswi kelas XI IPS. Koperasi
siswa menjual berbagai alat tulis yang
dibutuhkan oleh para peserta didik.
Hasil penjualan dan keuntungannya
digunakan untuk menunjang kegiatan-
kegiatan siswa serta kegiatan OSIS.
Kegiatan koperasi sekolah dijalankan
melalui jadwal piket pada jam
istirahat pertama dan kedua setiap
harinya. Petugas piket terbagi dalam
beberapa kelompok, dengan masa
tugas selama sepuluh hari. Laporan
penjualan yang dibuat selama tugas
tersebut diserahkan kepada guru
pengajar Ekonomi, dan dinilai sebagai
nilai tugas. Teori yang dipelajari di
kelas dapat diimplementasikan dalam
bentuk laporan penjualan.
2. Babose
Babose adalah singkatan dari ”bawa
botol sendiri”. Para peserta didik
membawa botol air minum ke
sekolah, dan air minumnya bisa diisi
dari galon yang sudah disiapkan
di kelas masing-masing. Melalui
progam babose, setiap kelas dapat
membeli galon air mineral di koperasi
sekolah untuk kebutuhan minum
warga kelas. Untuk membeli galon
yang berisi air minum, para siswa
menggunakan uang kas kelas masing-
masing. Setiap pembelian satu galon
air mineral akan mendapatkan satu
kupon sebagai bukti pembelian. Bila
sudah terkumpul sepuluh kupon,
bisa ditukarkan dengan satu galon air
mineral secara gratis.
3. Kerja sama dengan Toko Buku Petra
Togamas
Bentuk kerja sama SMA Kristen
Petra 3 dengan Toko Buku Petra
Togamas melalui koperasi siswa
diwujudkan dalam bentuk kerja sama
penjualan konsinyasi. Koperasi siswa
mendapatkan keuntungan sebesar
10% dari total penjualan alat tulis
yang merupakan titipan atau suplai
dari Toko Buku Petra Togamas.
4. Excellent Point
Progam
Excellent Point
dilakukan
oleh tiap-tiap kelas secara bergantian
sesuai dengan jadwal pada jam
istirahat. Setiap kelas menjual
produk berupa makanan, minuman,
atau bentuk barang lain, kepada
warga sekolah. Makanan yang dijual
tidak boleh berupa makanan berat
seperti nasi, agar tidak bersaing
dengan penjualan oleh kantin
sekolah. Melalui progam ini, peserta
didik akan merasakan bagaimana
membuat sebuah produk kemudian
memasarkannya kepada warga
sekolah.
5. Bazar
Progam bazar merupakan progam
entrepreneur
yang dilaksanakan oleh
sekolah dalam
event-event
tertentu,
dengan melibatkan semua kelas
untuk berjualan pada stan bazar
yang sudah ditentukan. Peserta didik
diperbolehkan menjual makanan
atau minuman sesuai dengan kreasi
masing-masing pada saat pelaksanaan
bazar. Sekolah memberikan modal
kepada setiap kelas dengan nilai
nominal yang sama. Usai pelaksanaan
bazar, modal dikembalikan oleh tiap-
tiap kelas secara utuh. Sedangkan
untuk keuntungan yang diperoleh,
dibagi dengan sekolah dengan
pembagian 50:50.
Sebagai Kepala SMA Kristen Petra 3,
saya menghargai, mendukung, dan
memotivasi, sehingga SMA Kristen Petra
3 bisa menghasilkan
entrepreneur-
entrepreneur
muda yang siap
menghadapi peluang dan tantangan.
Doa dan harapan saya, semoga para
lulusan SMA Kristen Petra 3 mampu
mengembangkan seluruh potensi yang
dimilikinya untuk masa depan yang lebih
menjanjikan.
Berikut ini beberapa testimoni dari
warga sekolah, antara lain:
• Dra. Endah Poerwaningsih (pengajar
Teknologi Pengolahan): Teori yang
saya dapatkan selama mengikuti
pelatihan
Business Entrepreneurship
yang diadakan oleh Puslitbang PPPK
Petra, menjadi bekal bagi saya untuk
mengajar para peserta didik agar
mereka mengerti tentang perbedaan
antara berdagang dengan
Business
Entrepreneurship
. Berdagang
hanya mengambil selisih harga,
sedangkan
Business Entrepreneurship
memberikan nilai lebih dari apa yang
dijual dengan modal inovatif dan
kreatif.
• Fajar Triyadi, S.Pd (pengajar mata
pelajaran Ekonomi khususnya
entrepreneurship
di kelas X):
Melalui program-program
Business
Entrepreneurship
yang ada di SMA
Kristen Petra 3, saya menjadi lebih
mudah mengajak peserta didik untuk
memahami dan mengembangkan
jiwa
entrepreneurship
. Teori-teori
yang saya ajarkan dapat dipraktikkan
Business Entrepreneurship
di SMA Kristen Petra 3
secara langsung oleh peserta didik
sebagai pelaku dan pelaksana program
entrepreneurship
di sekolah.Bunyi
dering bel istirahat merupakan waktu
yang ditunggu oleh peserta didik yang
mendapat tugas sesuai dengan jadwal.
Inilah saatnya mereka mempraktikkan
secara langsung konsep, teori, dan
strategi pemasaran yang didapat di
dalam kelas dengan pangsa pasar
peserta didik yang lain.
• M. Ibrahim (siswa kelas XII IPA-2):
Entrepreneurship
menjadi salah satu
kegiatan sekolah yang bermanfaat
dan menyenangkan, karena dapat
melatih, mengembangkan, bahkan
memunculkan jiwa kewirausahaan
yang selama ini belum terlihat.
Kegiatan
entrepreneurship
juga
mengisi waktu luang saya untuk
tidak mengerjakan hal-hal yang tidak
bermanfaat. Jika kelas mendapat
bagian untuk mempraktikkan
entrepreneurship,
saya bersama
dengan teman-teman mencoba
membuat makanan olahan yang sesuai
dengan selera dan juga dengan harga
terjangkau, guna mengumpulkan dana
sebagai tambahan modal, misalnya
untuk mengikuti lomba mading. Hal
tersebut memupuk jiwa kemandirian
saya dan kerja sama antarteman.
Kegiatan ini juga sangat didukung oleh
orang tua saya yang berprofesi sebagai
wiraswasta.
• Stony Wicaksono Tampi (siswa kelas
XII IPS-2): Kegiatan
entrepreneurship
adalah sesuatu yang menantang.
Pada awalnya saya berpikir akan sulit
dilakukan karena sulit menyatukan
ide-ide, diperlukan inovasi serta kerja
sama yang baik dalam tim. Setelah
saya menekuni
entrepreneurship
di sekolah, justru membuat saya
semakin kompak, sehingga ide baru
pun bermunculan untuk selanjutnya
dikembangkan. Melalui kegiatan
entrepreneurship,
karakter saya
berubah menjadi lebih percaya diri,
lebih mandiri, dan pantang menyerah
dalam menghadapi konsumen.
15
Dra. Hanna Herawati, M.M.
Kepala SMA Kristen Petra 3