Page 8 - Sinergi Edisi Juni 2021
P. 8

Demikian semua hal di atas adalah penting di          yang dekat dengan kita. Jadikan kekristenan kita
        dalam menolong setiap kita untuk dapat mengenali      bermakna. Selamat bersaksi dan melayani! Tuhan
        kehidupan spiritualitas kita secara pribadi. Sudahkah  Yesus menolong kita semua.
        spiritualitas yang holistik itu ada dan menjadi
        bagian di dalam kehidupan kita, dan dihidupi dalam    Daftar pustaka:
        keseharian kita di mana pun Tuhan tempatkan untuk  http://gkipengadilan.or.id/gkipengadilanbogor/
        berkarya, baik dalam keluarga, masyarakat di mana     september-2016/
        kita tinggal, gereja, maupun dalam pekerjaan yang     http://bacaalkitab.com/memberi-yang-terbaik-
        sebagian besar waktu kita habis di dalamnya?          kolose-110-tb/
                                                              Donald S. Whitney (2013). Spiritual Check-Up.
        Mari kita terus berproses di dalam pertumbuhan        Yogyakarta: Yayasan Gloria
        rohani, bertumbuh dalam segala hal ke arah Dia,
        sehingga peran serta kita bukan hanya sekadarnya
        atau jika sempat. Karena sebagai orang percaya,
        dalam setiap kehadiran kita yang sudah menerima                       “
        berkat dari Tuhan, kita dipanggil untuk memberkati    Discipline is the bridge between
        sesama. Dalam rangka itulah, kita perlu menggali
        diri dan pikiran, mengevaluasi yang sudah kita            goals and accomplishement
        perbuat, bahkan menjadi kebiasaan dan mau                        - Mother Theresa -
        memandang ke depan untuk keadaan yang lebih
        baik. Jangan ragu untuk mulai melangkah dari




                Jangan ragu untuk memulai melangkah dari yang dekat dengan kita. Jadikan kekristenan kita
                       bermakna. Selamat bersaksi dan melayani. Tuhan Yesus menolong kita semua.




                          GIFTED HANDS:
            RESENSI
                          THE BEN CARSON STORY




        Oleh :
        Venisia Tamara, S.T.                                    ebuah cerita nyata berdasarkan kehidupan ahli
        Staf Litbang PPPK Petra                              Sbedah saraf terkenal di dunia, Ben Carson, dari
                                                             tahun 1961 sampai 1987. Film Gifted Hands: The
                                                             Ben Carson Story ini bercerita tentang Ben Carson
                                                             dan Curtis (kakak Ben) yang dididik dengan cara
                                                             berbeda dari kebanyakan anak. Ben Carson yang
                                                             awalnya selalu diremehkan dan didiskriminasi karena
                                                             ia merupakan keturunan Afrika-Amerika, akhirnya
                                                             dapat membuktikan kalau dirinya bisa menjadi
                                                             seorang dokter bedah saraf terbaik di dunia.

                                                             Film berawal saat Dr. Benjamin Carson (Ben) duduk
                                                             di bangku SD. Pada saat itu Ben sangat bodoh. Setiap
                                                             ulangan Matematika, dia selalu mendapatkan nilai F.
                                                             Semua teman Ben selalu mengejeknya, bahkan ada
                                                             seorang temannya yang dengan lantang mengejek
                                                             Ben dengan mengatakan: “You’re the dumbest kid
                                                             in the world, Ben!” Pada saat itu Ben tidak bisa
                                                             menahan emosinya, dan ia memukul anak kulit putih
                                                             yang mengejeknya. Diskriminasi ras yang merebak
  08                                                         saat itu, membuat pihak sekolah menyalahkan Ben
   3   4   5   6   7   8   9   10   11   12   13