Page 7 - Turning Point PPPK Petra
P. 7

dengan  pola  asuh  demokratis  (yang   Selain di dalam keluarga, pendidikan
         bayinya  yang  berusia  di  bawah  enam   mendorong anak untuk terbuka, namun   karakter  anak  diperoleh  di  sekolah.
         bulan (diukur dari seringnya ibu menatap   bertanggung  jawab,  dan  mandiri)   Walaupun dasar  pendidikan karakter adalah
         mata anaknya, mengelus, menggendong,   terhadap hasil pendidikan karakter.   keluarga,  pendidikan  karakter  di  sekolah
         dan  berbicara  kepada  anaknya)  akan                                 sangat  diperlukan.  Adalah  fakta  bahwa
         memengaruhi  sikap  bayinya  sehingga   Megawangi  menyebutkan  beberapa   kurikulum  pendidikan  di  Indonesia  belum
         menjadi  anak  yang  gembira,  antusias   kesalahan  orang  tua  dalam  mendidik  anak   secara memadai menyentuh aspek karakter.
         mengeksplorasi  lingkungannya,  dan   yang  dapat  memengaruhi  perkembangan   Padahal  jika  Indonesia  ingin  bangkit  dari
         menjadikannya anak yang kreatif.  kecerdasan  emosi  anak  dan  memengaruhi   k e t e r p u r u k a n ,
     4. Pola asuh, yakni pola interaksi antara anak   pembentukan karakternya, yaitu  Indonesia  harus
         dan orang tua yang meliputi pemenuhan   a. kurang  menunjukkan  ekspresi  kasih   memperbaiki   “Sow an act,
         kebutuhan fisik (makan, minum, dll.), dan   sayang baik secara verbal maupun fisik,   mutu  SDM-  and you reap a habit;
         kebutuhan  psikologis  (rasa  aman,  kasih   b. kurang  meluangkan  waktu  yang  cukup   nya.  Dan   sow a habit,
         sayang,  dll.),  serta  sosialisasi  norma-  untuk anaknya,            jika itu yang   and you reap a character;
         norma yang berlaku di masyarakat agar   c. bersikap  kasar  secara  verbal,  misalnya   diinginkan,   sow a character,
         anak  dapat  hidup  selaras  dengan   menyindir dan berkata-kata kasar,   Indonesia   and you reap a destiny.”
         lingkungannya.  Pola  asuh  meliputi  pola   d. bersikap  kasar  secara  fisik,  misalnya   h a r u s    (George Dana
         interaksi  orang  tua  dengan  anak  dalam   memukul,  mencubit,  dan  memberikan   m e r o m b a k    Boardman)
         rangka pendidikan karakter anak. Orang   hukuman badan lainnya,        s i s t e m   d a n
         tua  yang  terbiasa  berbicara  sopan,   e. memaksa  anak  untuk  menguasai   praktik  pendidikan
         bersikap  santun,  memberi  pujian,   kemampuan kognitif secara dini,   yang ada menjadi pendidikan yang memberi
         menegur dengan lembut, akan menjadi   f.  tidak  menanamkan  karakter  yang  baik   porsi  memadai  bagi  pendidikan  karakter.
         model  yang  baik  bagi  anak-anaknya.   kepada anak.                  Pendidikan  karakter  membangun  dan
         Demikian pula sebaliknya.                                              mengembangkan  kecerdasan  emosi  dan
           Keberhasilan  keluarga  dalam   Salah  asuh  seperti  itu  berpotensi   bahkan  kecerdasan  spiritual  anak  yang
     membangun karakter pada anak juga sangat   menumbuhkan  anak-anak  dengan   merupakan  bekal  amat  penting  bagi  anak
     bergantung pada pola asuh yang diterapkan   kepribadian  bermasalah,  atau  mempunyai   dalam  menyongsong  masa  depan,  karena
     orang tua. Secara umum, E.B. Hurlock (Child   kecerdasan emosi yang rendah.  dengannya seorang anak akan lebih mampu
     Development, 1981) mengkategorikan pola   a. Anak menjadi acuh tak acuh, merasa tidak   menghadapi  segala  macam  tantangan,
     asuh menjadi tiga jenis.                butuh  orang  lain,  sulit  menerima   termasuk  tantangan  untuk  berhasil  secara
     1. Pola asuh otoriter: orang tua membuat   persahabatan.  Karena  sejak  kecil   akademis.
         semua  keputusan,  anak  harus  tunduk,   mengalami  kemarahan,  rasa  tidak   Pendidikan  karakter  di  sekolah
         patuh, tidak boleh bertanya. Kekuasaan   percaya,  dan  gangguan  emosi  negatif   harus  melibatkan  tiga  aspek:  pengetahuan
         orang tua dominan, anak tidak dihargai     lainnya,  ketika  dewasa  ia  menolak   (cognition),  perasaan  (feeling),  dan  tindakan
         sebagai pribadi, kontrol terhadap tingkah   dukungan,  simpati,  cinta,  dan  respons   (action),  dan  dilaksanakan  secara
         laku  anak  sangat  ketat,  orang  tua   positif lainnya dari orang di sekitarnya. Ia   berkelanjutan.  Tanpa  ketiga  aspek  itu,  dan
         menghukum anak jika anak tidak patuh.   mungkin  tampak  mandiri,  tetapi  tidak   jika tidak dilaksanakan secara berkelanjutan,
     2. Pola  asuh  demokratis:  orang  tua   hangat,  dan  tidak  disenangi  oleh  orang   pendidikan  karakter  tidak  akan  efektif,
         mendorong  anak  membicarakan       lain.                              demikian  Thomas  Lickona.  Pendidikan
         keinginannya,  ada  kerja  sama  orang   b. Secara  emosional  tidak  responsif.  Anak   karakter  di  sekolah  dapat  dikembangkan
         tua/anak, anak diakui sebagai pribadi, ada   yang  ditolak  akan  tidak  mampu   melalui  pelbagai  kegiatan,  antara  lain
         bimbingan  dan  pengarahan  dari  orang   memberikan cinta kepada orang lain.   manajemen  kelas,  penegakan  disiplin,
         tua,  ada  kontrol  dari  orang  tua  tetapi   c. Berperilaku agresif, ingin menyakiti orang   pendampingan/perwalian,  pendidikan
         tidak kaku.                         lain, baik secara verbal maupun fisik.   jasmani,  pendidikan  estetika,    dan
     3. Pola  asuh  permisif:  orang  tua  memberi   d. Menjadi  rendah  diri,  merasa  tidak   pengembangan kurikulum secara integral.
         kebebasan  penuh  pada  anak  untuk   berharga, tidak berguna.               Dalam  pendidikan  karakter,
         berbuat, dominasi ada pada anak, sikap   e. Berpandangan  negatif  terhadap   lembaga  pendidikan  membutuhkan  sinergi
         longgar  dari  orang  tua,  tidak  ada   lingkungan: merasa tidak aman, khawatir,   dengan lembaga-lembaga lain yang relevan,
                      b i m b i n g a n   d a n    curiga  terhadap  orang  lain,  dan  merasa   terutama  orang  tua.    Kalau  seorang  anak
                         pengarahan  dari    orang lain mengkritiknya.          mendapatkan pendidikan karakter yang baik
                          o r a n g   t u a ,    f. Ketidakstabilan emosi: tidak toleran atau   dari keluarganya, anak tersebut selanjutnya
         “The essential    kontrol  dan      tidak  tahan  terhadap  stres,  mudah   akan  memiliki  karakter  yang  baik.  Namun
          thing is not      perhatian orang   tersinggung, mudah marah, dan sifat-sifat   sayang,  tidak  sedikit  orang  tua  yang  lebih
                                             lain yang sulit diprediksikan.
        knowledge, but      t u a   s a n g a t    g. K e t i d a k s e i m b a n g a n   a n t a r a    mementingkan aspek kecerdasan intelektual
                                                                                dibandingkan  karakter.  Tidak  sedikit  orang
           character.”      kurang.          perkembangan  emosional  dan       tua  yang  kurang  berhasil  dalam  mendidik
                               Pola  asuh
         (Joseph Le Conte)                   intelektual.  Dampak  negatifnya  dapat   karakter  anak-anaknya,  entah  karena
                          yang  diterapkan
                         oleh  orang  tua    berupa mogok belajar, dan bahkan dapat   kesibukan, atau karena lebih mementingkan
                      m e n e n t u k a n    memicu kenakalan remaja, tawuran, dan   aspek kognitif anak.
         keberhasilan pendidikan karakter dalam   lainnya.                            Di  sinilah,  yakni  di  samping  dan
         keluarga.  Tiap  pola  asuh  memberi   h. Anak tidak dekat dengan orang tua, tidak   dalam sinergi dengan keluarga, sekolah harus
         d a m p a k   b e r b e d a - b e d a   d a l a m    menjadikan orang tua sebagai role model,   berperan  dalam  membantu  membangun
         pembentukan karakter anak. Pola asuh   lebih  memercayai  peer  group-nya,   karakter anak-anak.
         otoriter  (yang  menuntut  anak  untuk   sehingga  mudah  terpengaruh  oleh
         patuh terhadap segala keputusan orang   pergaulan negatif.                              Malang, 20 Mei 2011
         tua),  dan  pola  asuh  permisif  (yang
         memberi  kebebasan  penuh  pada  anak)                                 * Pdt. Wahju Widajat, M.Min. adalah
         memberi  dampak  sangat  berbeda   Sekolah Juga Harus Berperan            Pendeta GKJW Jemaat Tulang Bawang, Malang.




                                                                                         JUNI 2011 TurningPoint  7
   2   3   4   5   6   7   8   9   10   11   12